Gema di Balik Riuh - Eps. 01
Bab 1: Menulis Suara Orang Lain
Lampu sorot aula utama gedung JCC begitu terang hingga menyilaukan mata. Di atas panggung, seorang pria berjas rapi sedang berpidato dengan artikulasi sempurna. Ribuan orang terpukau, bertepuk tangan di setiap jeda kalimat yang dramatis.
Di baris belakang, tersembunyi di kegelapan, Arkan memperhatikan sambil memegang tablet digitalnya. Pria di atas panggung itu meneriakkan kata demi kata yang ditulis oleh Arkan semalam suntuk.
"Kata-kata itu seperti senjata," bisik Arkan pada dirinya sendiri. "Masalahnya, aku hanya tahu cara merakitnya, bukan cara menembakkannya."
Ponsel Arkan bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal: “Mentor-mu tidak akan datang besok. Giliranmu yang harus bicara di mimbar utama.”
Jantung Arkan serasa berhenti berdetak. Telapak tangannya mulai dingin. Ruangan yang luas itu mendadak terasa begitu sempit dan mencekik.
Bagaimana Kita Melanjutkannya?
Kita bisa mengembangkan cerita ini bersama! Karena Anda sedang melatih kemampuan public speaking, kita bisa menggunakan novel ini sebagai sarana latihan.
Apakah Anda ingin melanjutkan cerita ini di mana Anda berperan sebagai Arkan yang sedang belajar mengatasi demam panggung, atau Anda punya ide tema cerita lain (seperti romansa, misteri, atau fantasi) yang ingin dibuat?