Gema di Balik Riuh - Eps. 02
Bab 2: Panggung yang Membisu
Detak jarum jam dinding di ruang kerja Baskara—sang mentor—terdengar seperti dentuman gada di telinga Arkan. Pesan singkat semalam bukan gertakan. Baskara benar-benar hilang. Meja kerjanya rapi, namun ponsel utamanya ditinggalkan begitu saja di atas meja, mati total.
Di samping ponsel itu, terdapat sebuah map merah bertuliskan “Forum Pemuda Asia Tenggara: Pidato Pembuka”.
Arkan membuka map tersebut. Di dalamnya hanya ada selembar kertas kosong dengan satu catatan kecil di pojok kanan atas:
“Carilah suaramu sendiri, Arkan. Jangan gunakan suaraku lagi.”
"Sialan," umpat Arkan, meremas kertas itu sebelum akhirnya meratakannya kembali dengan telapak tangan yang gemetar.
10 Jam Menuju Panggung
Sebagai seorang konseptor di balik layar, Arkan tahu persis struktur pidato yang sempurna. Dia tahu cara membuat hook tiga detik pertama yang mematikan, cara mengatur ritme kalimat, hingga memilih kata-kata emotif yang bisa memeras air mata audiens.
Namun, semua teori di kepalanya menguap saat dia berdiri di depan cermin besar ruang tengahnya.
Arkan mencoba membaca draf kasar yang baru ia tulis. "Selamat... selamat pagi, rekan-rekan... se-tanah air..."
Suaranya tercekat. Tenggorokannya terasa kering seperti menelan pasir. Bayangan masa lalu—saat dia ditertawakan satu sekolah karena mendadak lupa ingatan di tengah lomba pidato SMP—kembali menghantamnya. Keringat dingin mulai membasahi kaos hitam yang dipakainya.
"Ayo, Arkan. Kamu yang menulis pidato untuk Gubernur bulan lalu. Kamu tahu caranya," bisiknya menyemangati diri sendiri. Namun, ego di dalam kepalanya mengejek: Kamu cuma berani di balik keyboard, Arkan. Panggung bukan tempatmu.
Pertemuan di Kedai Kopi
Frustrasi, Arkan memutuskan keluar mencari udara segar. Dia berjalan tanpa arah hingga kakinya berhenti di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota. Kedai itu sepi, hanya ada seorang barista perempuan yang sedang sibuk membersihkan mesin kopi.
Arkan memesan kopi hitam kuat. Sambil menunggu, dia kembali menatap teks pidatonya dengan frustrasi, sesekali mengetukkan jarinya ke meja dengan ritme yang berantakan.
"Kalau membaca teks formal seperti itu, keningmu tidak akan pernah rileks," sebuah suara menginterupsi.
Arkan mendongak. Barista itu menyodorkan cangkir kopi panas. Di papan namanya tertulis: Citra.
"Maaf?" tanya Arkan gagap.
"Teks itu," Citra menunjuk kertas di meja Arkan. "Bahasanya terlalu... langit. Bagus untuk dibaca di koran, tapi melelahkan untuk didengar. Orang tidak ingin mendengar robot bicara, mereka ingin mendengar manusia."
Arkan mengerutkan kening, agak tersinggung. "Ini struktur pidato standar internasional."
Citra tersenyum tipis, lalu bersandar di meja counter. "Standar internasional mungkin bisa memukau pikiran orang, tapi tidak akan bisa menyentuh hati mereka. Kamu mau mereka sekadar tahu, atau mereka bergerak?"
Kata-kata Citra menghantam Arkan tepat di ulu hati. Sesuatu yang selama ini hilang dari naskah-naskah hebat yang ia tulis untuk para pejabat kini mendadak terasa nyata: Jiwa dari kata-kata itu sendiri.
Ponsel Arkan berdering. Telepon dari panitia forum. "Halo, Mas Arkan? Posisi di mana? Konfirmasi kehadiran pembuka dari tim Baskara ditunggu 30 menit lagi, atau posisi slot bicara akan dialihkan."
Arkan menatap Citra, lalu menatap naskah di mejanya. Waktu bagai bom yang siap meledak.
Bagaimana Kelanjutannya?
Di episode berikutnya, Arkan harus mengambil keputusan besar. Apakah Anda ingin Arkan menerima tantangan itu dan mulai berlatih teknik baru bersama Citra, atau ada konflik lain yang ingin Anda masukkan—misalnya, Arkan menemukan petunjuk mengapa Baskara sengaja menghilang?